Study menunjukan bahwa cardio dengan perut kosong lebih membakar kalori dibanding cardio setelah makan.
Beberapa penelitian yang dianalisis secara keseluruhan menunjukkan bahwa berolahraga dalam keadaan fasted meningkatkan oksidasi lemak (fat oxidation) selama latihan dibandingkan saat perut sudah makan (fed state). Hal ini berarti tubuh menggunakan lebih banyak lemak sebagai sumber energi saat puasa dibandingkan setelah makan oleh Cambridge University Press & Assessment
Ini didukung oleh penelitian yang menunjukkan bahwa cardio fasting meningkatkan pembakaran lemak selama sesi latihan bukan hanya energi secara umum. Namun peningkatan pembakaran lemak selama latihan bukan berarti tubuh akan kehilangan lebih banyak lemak total atau menurunkan berat badan lebih cepat secara keseluruhan tanpa mempertimbangkan asupan makanan dan defisit kalori total.
Beberapa faktor fisiologis mendasari perbedaan ini adalah setelah puasa, kadar insulin rendah, sehingga tubuh lebih siap untuk memecah lemak sebagai bahan bakar dan saat kortisol relatif lebih tinggi di pagi hari setelah puasa, tubuh cenderung memanfaatkan lemak sebagai energi. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa berolahraga sebelum sarapan dapat meningkatkan oksidasi lemak selama 24 jam dibandingkan setelah makan meskipun total energi yang dibakar sepanjang hari bisa serupa jika asupan makanan disesuaikan.
Walaupun fasted cardio meningkatkan persentase lemak yang dibakar selama latihan, ini tidak otomatis berarti kalori total yang dibakar menjadi lebih banyak atau bahwa program latihan ini lebih efektif untuk penurunan berat badan dalam jangka panjang.Penelitian menunjukkan bahwa fat oxidation meningkat saat latihan tanpa makan terlebih dahulu. Namun, perubahan komposisi tubuh (penurunan lemak tubuh total) tidak selalu berbeda antara cardio fasting dan fed saat diet dan latihan dipadukan seimbang. Hal ini karena penurunan berat badan tetap sangat tergantung pada defisit energi harian, bukan hanya sumber bahan bakar tubuh selama
Fasted cardio membuat tubuh menggunakan lebih banyak lemak sebagai bahan bakar dibandingkan cardio setelah makan, terutama saat intensitas rendah-menengah. Rasio pembakaran lemak lebih tinggi saat puasa, tetapi total kalori yang dibakar selama dan setelah latihan tidak selalu lebih besar dibandingkan setelah makan tergantung pada intensitas dan durasi latihan. Penurunan lemak tubuh secara keseluruhan lebih dipengaruhi oleh defisit kalori total daripada hanya waktu makan sebelum latihan.
Fasted cardio boleh menjadi strategi untuk memaksimalkan penggunaan lemak sebagai energi di sesi latihan tertentu (terutama saat morning cardio ringan sampai menengah) namun, jika tujuan utama adalah penurunan berat badan atau kalori total yang dibakar, hal ini tetap bergantung pada total energi yang masuk dan keluar setiap hari. Untuk latihan intensitas tinggi atau durasi panjang, tubuh mungkin berfungsi lebih baik dengan asupan ringan sebelum latihan untuk menjaga performa dan mencegah kelelahan.



